Emotion, Humour, Scenery

Autumn Feels

Menjelang winter, pohon depan rumah masih berwarna musim gugur.

Semoga membawa keberkahan (eh?). Ga nyambung. Yasudahlah. Mohon dinikmati saja pohonnya.

Musim Gugur di Canberra itu paling indah pemandangannya. Kalau di Sydney, yang bisa dilihat paling Opera House, gedung-gedung pencakar langit macam di Spider-Man. Kalau di Canberra, yang kebanyakan isinya pohon dan perbukitan, perubahan musim sangat terasa. Dari pergantian warna pohon sampai cuaca yang sangat ekstrim, dibanding kota lain di Australia. Yang juga ikut berubah dengan pergantian cuaca adalah suasana hati. Ketika summer, saya merasa setiap hari dipenuhi kebahagiaan. Senang. Riang. Apalagi summer pas dengan hari-hari awal di Canberra. Masih sangat bersemangat dan menikmati hidup baru. Setiap hari saya bersama teman-teman geng Aliansi Bocah Hore Canberra (geng baru dibentuk sejak saya turun dari pesawat hahaha) berjalan-jalan ala turis ke seluruh tempat menarik diCanberra. Summer juga merupakan musim favorit warga Australia sehingga banyak acara terutama festival-festival nan keren diadakan saat musim panas tiba. Sekiranya ada waktu dan ketiadaan malas(lol), saya akan menulis satu posting khusus untuk membahas festival keren di Canberra.

Anyway, semuanya berubah setelah Negara api menyerang (eh, avatar?). Maksud saya, begitu autumn tiba, duh, rasanya setiap hari kok kelabu ya. Angin lebih kencang menampar bikin saya kesel dan tambah merana. Temperatur juga sudah mulai turun jadi jangan harap keluar rumah bisa tahan tanpa jaket tebal. Belum lagi pergeseran waktu dari summer yang isya itu jam 10 malam ke jam 7. Pergeseran waktu juga insya Allah akan saya bahas nantinya di posting pelarian selanjutnya. Yang juga tak kalah menyebalkan adalah hujan yang semakin sering datang kala musim gugur tiba. Rupanya bukan cuma daun yang berguguran, airpun begitu ya, menambah suasana haru biru. Memang kadang merasa bahagia melihat pepohonan berganti warna cantik merah, kuning dan coklat, tapi rasa sedih terus saja menghantui. Mungkin karena semakin banyak tugas dan beban kuliah, ditambah kangen rumah yang tidak bisa diobati hanya dengan video call (terkadang hilang gambarnya, told you Purwokerto sucks).

Baiklah, saya mau melakukan pengakuan. Hari ini saya sudah banyak menunda kewajiban. Namanya blog pelarian, jadi saya kesini kalau mau lari dari kenyataan; dari tugas; dari essay 4000 kata; dari debat Human Rights; dari kehidupan nyata. Feels really good tho. Senang sekali bisa punya platform curhat dan pelarian hahaha

Sampai bertemu lagi di pelarian selanjutnyaa

2 Comments

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *